Puisi Cinta yang Tak Terbalaskan
Malam itu terlalu sunyi, bahkan detak jam pun terasa seperti jeritan kesepian. Di bawah remang lampu yang menggantung lelah, aku duduk sendiri, menuliskan namamu yang tak pernah bisa kuhapus dari ruang hatiku. Kau hadir dalam diam, tinggal dalam senyap, dan menyiksa dalam ketidakpedulian yang dingin.
Aku mencintaimu. Bukan dengan cara yang biasa, tapi dengan segenap hati yang bahkan tak ingin meminta balasan. Aku tahu, cinta ini seperti doa yang hanya sampai langit-langit malam—bergema, lalu kembali menyiksaku. Kau tak tahu, dan mungkin memang tak akan pernah tahu, bahwa ada seseorang yang mencintaimu begitu dalam di sudut dunia yang tak kau jamah.
Aku melihatmu tertawa pada orang lain, menyebut nama yang bukan namaku, dan menatap mata yang tak pernah menatapku. Sakit? Tentu saja. Tapi tak ada luka yang lebih manis daripada mencintaimu dalam diam, dalam jarak, dalam ketakberdayaan yang menyayat.
Ada malam-malam di mana aku berharap kau mengetuk pintuku, hanya untuk bilang bahwa kau mengerti. Tapi kenyataan selalu lebih dingin daripada angan. Yang mengetuk justru hujan, membawa dingin yang menggigilkan rasa, memaksaku kembali menulis namamu di jendela berkabut. Sekadar agar aku tak lupa bagaimana rasanya berharap.
Jika mencintaimu adalah dosa, maka biarkan aku tenggelam dalam kesalahan ini selamanya. Karena meski dunia tak memberkati, hatiku tetap berpihak padamu. Meski hidup memberiku seribu alasan untuk melupakan, satu senyummu cukup membuatku bertahan dalam kenangan.
Aku pernah mencoba pergi. Mencoba melupakan semua. Tapi langkahku selalu tersesat kembali ke tempat kita tak pernah menjadi kita. Di bangku taman itu, di bawah langit yang sama, aku selalu duduk sendiri, seolah menunggumu datang meski tahu tak akan pernah.
Mereka bilang, cinta tak harus memiliki. Aku mengerti, tapi aku juga manusia. Aku ingin, setidaknya sekali, mendengar namaku terucap di bibirmu bukan sebagai kawan, bukan sebagai lalu-lalang, tapi sebagai seseorang yang berarti. Tapi nyatanya, aku selalu jadi bayang-bayang dari cerita yang bukan milikku.
Kadang aku bertanya pada Tuhan, kenapa cinta ini ada jika pada akhirnya hanya membuatku terluka. Tapi lalu aku sadar, bahwa cinta ini bukan kutukan, melainkan pelajaran. Tentang keikhlasan, tentang ketulusan, tentang bagaimana mencintai seseorang sepenuh jiwa meski tak pernah disentuh raganya.
Aku ingin menghilang, menghapus setiap jejakmu dari pikiranku. Tapi setiap malam datang, kau justru semakin jelas. Suaramu yang samar, langkahmu yang ringan, bahkan tawamu yang membekas—semuanya kembali seperti kaset rusak yang diputar berulang dalam kepala.
Cinta yang tak terbalaskan adalah pedih yang manis. Ia menusuk dalam, tapi membentuk kekuatan. Ia menyiksa, tapi juga mendewasakan. Dalam diamku, aku tumbuh menjadi seseorang yang tahu bahwa cinta tak melulu soal memiliki. Kadang, cinta hanyalah tentang membiarkan seseorang bahagia, walau tanpa kita.
Apakah aku menyesal telah mencintaimu? Tidak. Karena melalui cintamu, aku belajar bahwa perasaan tulus tak pernah sia-sia. Meski tak dibalas, ia tetap suci. Meski tak dirayakan, ia tetap murni. Meski tak dimiliki, ia tetap hidup.
Dalam sunyi yang kian menyesakkan, aku masih berharap. Bukan berharap kau datang, tapi berharap aku bisa berhenti mencintaimu. Karena sejujurnya, rasa ini sudah terlalu berat untuk kutanggung sendirian. Hatiku lelah berperang dengan kenyataan, tapi aku juga tak bisa menyerah begitu saja.
Kau adalah puisi yang tak pernah selesai. Kalimat-kalimat tentangmu berlarian di benakku, menciptakan bait yang tak mampu kutuliskan. Karena setiap kali aku ingin menutup kisah ini, wajahmu muncul di balik titik. Menggoda agar aku menulis satu baris lagi.
Kepada malam, aku titipkan rinduku. Kepada angin, aku sampaikan doaku. Dan kepada Tuhan, aku serahkan perasaanku. Biar mereka yang tahu bagaimana caranya menyentuhmu—tanpa harus menyakitiku.
Pernah ada saat aku berpikir untuk mengungkapkan semuanya. Meneriakkan isi hati ini langsung ke hadapanmu. Tapi bayangan bahwa kau akan menjauh, membuatku memilih diam. Karena lebih baik mencintaimu dari jauh, daripada kehilanganmu sepenuhnya.
Dan jika suatu saat kau membaca ini, entah sadar atau tidak bahwa ini tentangmu, ketahuilah—ada seseorang yang pernah mencintaimu dengan begitu tenang, dalam, dan penuh luka. Ia tidak meminta balasan, hanya ingin dikenang, walau sekejap.
Aku masih mencintaimu. Mungkin sampai waktu memutuskan untuk menghapus semua rasa ini. Tapi sebelum hari itu tiba, izinkan aku terus menulismu, menyebut namamu dalam doa, dan menjadikanmu alasan mengapa aku masih bertahan di dunia yang begitu sunyi.
Cinta ini tak akan menjadi cerita yang dikenang banyak orang. Ia hanya akan hidup di halaman-halaman puisi sepi, di bawah judul yang tak pernah terbaca olehmu. Tapi bagiku, itu cukup. Karena mencintaimu sendiri, meski diam-diam, adalah hal paling berani yang pernah kulakukan.
Malam semakin larut, dan bayangmu semakin nyata. Di pantai sepi yang hanya ditemani bintang dan bisikan angin, aku kembali duduk, menatap laut yang luas—seolah mencari jawaban dari perasaan yang tak kunjung padam. Dan kau, tetap jadi gelombang yang tak pernah mencapai pantai hatiku.
Akhirnya, aku belajar melepaskan bukan karena sudah tak cinta, tapi karena aku mulai mencintai diriku sendiri. Aku mulai paham bahwa tak semua cinta layak dipertahankan, terutama jika itu hanya menyakiti satu pihak. Dan malam, menjadi saksi dari proses itu.
Tengah malam telah mengajarkanku banyak hal—tentang kehilangan, tentang harapan yang pupus, tentang cinta yang tetap hidup meski tak diberi tempat. Blog ini, "TengahMalam.id", adalah saksi bisu dari patah hati yang kusembunyikan rapat, dari cinta yang kubagikan hanya lewat kata.
Jadi, jika nanti kau merasa ada seseorang yang diam-diam mencintaimu, mungkin itu aku. Dan jika kau pernah merasa sepi di tengah keramaian, ingatlah bahwa ada cinta yang menunggu dalam diam, di ruang waktu yang tak pernah kau tempuh.
Aku tidak menyesali apapun. Cinta ini, meski tak terbalaskan, adalah bukti bahwa aku masih manusia—masih bisa merasa, masih bisa berharap, dan masih bisa mencintai dengan segenap jiwa.
Dan dengan ini, aku tutup kisah yang tak pernah benar-benar dimulai. Selamat tinggal, kenangan. Selamat tinggal, cinta yang tak pernah kembali. Semoga kau bahagia, meski tanpaku. Dan semoga aku bahagia, meski hanya dengan kenangan tentangmu.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜

Belum ada Komentar untuk "Puisi Cinta yang Tak Terbalaskan"
Posting Komentar